Sepak Terjang OVO Dalam Ketatnya Persaingan Aplikasi Dompet Digital

Sepak Terjang OVO Dalam Ketatnya Persaingan Aplikasi Dompet Digital

Dikembangkan oleh Lippo Group, target pasar aplikasi ini awalnya sudah terbilang spesifik, yaitu orang-orang yang gemar belanja di puluhan mall milik Lippo remipoker Group yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, hanya dalam waktu tiga tahun sepak terjang OVO semakin meluas dan kini berhasil menjadi salah satu dompet elektronik dengan pengguna terbesar di Indonesia.

OVO kini bersaing ketat dengan GOPAY, dompet digital yang dimiliki oleh Gojek. Meskipun demikian, pihak OVO berani mengklaim bahwa aplikasinya itu sudah dipasang oleh 115 juta pengguna, bahkan beberapa perusahaan startup yang statusnya sudah menjadi startup unicorn di Asia misal seperti Grab dan Tokopedia telah resmi menjadi mitra mereka.

Sepak Terjang OVO Di Indonesia

Keberhasilan OVO di Indonesia tidak lepas dari banyaknya fungsi dan beragam kemudahan yang dihadirkannya. Pengguna OVO bisa melakukan pembayaran tanpa uang tunai di berbagai merchant yang telah bekerja sama dengan OVO, membeli barang digital, membeli pulsa hingga membayar tagihan dengan cara yang lebih praktis.

Sementara itu, untuk proses pengisian saldo atau yang lebih dikenal dengan istilah top up, pengguna OVO juga bisa melakukannya dengan cara yang sangat mudah. Sebagai pengguna OVO, Anda dapat melakukan top up melalui transfer bank dan juga melalui mitra dagang OVO contohnya seperti di Alfamart.

Berbicara mengenai sepak terjang OVO di Indonesia berawal dari 2016 saat pertama kali aplikasi ini dirilis yang sebenarnya hanya sebatas aplikasi loyalitas untuk para pengunjung setia mall Lippo Group. Kemudian proses pengelolaan OVO diambil alih oleh salah satu tangan kanan Lippo Group yang khusus menyasar segmen digital yaitu Lippo X.

Selanjutnya, setelah berhasil mengantongi lisensi e-money dari Bank Sentral Indonesia, OVO kemudian mulai berubah menjadi aplikasi dompet digital yang proses peralihan resminya terjadi sekitar Agustus 2017. Baru setelah itu, OVO mendapat suntikan investasi senilai US$ 116 juta atau sekitar 1,6 triliun Rupiah yang berasal dari sebuah perusahaan jasa keuangan Jepang (Tokyo Century Corporation).

Sepak Terjang OVO Dalam Ketatnya Persaingan Aplikasi Dompet Digital

Selain mendapatkan suntikan dana hingga ratusan juta US Dollar, berkat adanya lisensi e-money dari BI, pada pertengahan tahun 2018 OVO juga berhasil mendapatkan beberapa mitra besar termasuk Grab dan Tokopedia yang kini telah resmi terintegrasi ke dalam ekosistem OVO. Kolaborasi yang dijalankan oleh OVO dan Grab serta OVO dan Tokopedia tentu akan menguntungkan kedua belah pihak.

Kendala dan Perkembangan Fitur yang Mempengaruhi Sepak Terjang OVO

Kendala utama yang cukup mempengaruhi kinerja OVO adalah proses integrasi OVO dengan mitra-mitranya, khususnya dengan Grab dan Tokopedia yang memang sama-sama bersifat platform yang terus berkembang. Proses integrasi itu sebisa mungkin harus mampu menghasilkan sebuah produk yang aman namun juga tetap nyaman sebab mudah untuk dipahami dan diadopsi oleh konsumen OVO.

Berkat adanya mitra-mitra yang bekerja sama dengan OVO, membuat aplikasi dompet digital ini juga mengalami perkembangan fitur, misalnya salah satu mitra OVO yaitu Bareksa sebuah marketplace reksadana online yang memungkinkan pengguna OVO lebih menghemat uang dengan cara mengalihkan saldo OVO milik mereka ke Bareksa, dan sebaliknya saldo akan kembali ditransfer ke OVO jika pengguna membutuhkan.

Selain itu, ada pula fitur OVO PayLater yang merupakan hasil kerjasama OVO dengan Tokopedia. Sesuai namanya, fitur ini berfungsi seperti sebuah kartu kredit namun dalam bentuk virtual, yang memungkinkan pengguna untuk membayar belakangan produk yang dibelinya dari Tokopedia.

Langkah Baru yang Akan Diambil Guna Meningkatkan Sepak Terjang OVO

Setelah berhasil bersaing ketat dengan GOPAY untuk merebut hati masyarakat Indonesia agar tertarik menggunakan layanan dompet digital. Kini OVO ingin semakin melebarkan sayapnya, agar bukan hanya menjadi layanan yang berfungsi sebatas menjalankan sistem pembayaran saja, namun juga fokus pada inklusi keuangan.

Hal tersebut sesuai dengan salah satu visi OVO untuk berperan dalam pertumbuhan inklusi keuangan pada ukuran dan skala yang terasa dampaknya di Indonesia. Oleh sebab itu, OVO kini mulai fokus untuk menerjemahkan sistem pembayaran yang selama ini dilakukan OVO untuk menjadi layanan keuangan sepenuhnya.

Terbukti dari langkah OVO untuk mengakuisisi dua perusahaan yang terkait dengan keuangan, yaitu Bareksa sebuah marketplace online yang berfungsi sebagai media investasi dalam bentuk reksadana. Sementara itu, akuisisi kedua OVO adalah sebuah perusahaan startup pemberi pinjaman P2P bernama Taralite. Akuisisi Taralite ini memungkinkan OVO memberi pinjaman kepada pembeli dan merchant yang tergabung dalam ekosistem OVO.

Sepak terjang OVO yang semakin konsisten dan maju ini membuat perusahaan ini digadang-gadang akan segera menjadi sebuah perusahaan startup berstatus unicorn. Harapan seperti itu memang sangat masuk akal mengingat perkembangan pesat OVO yang kian hari memang semakin mengesankan. Jadi tampaknya tinggal tunggu waktu saja untuk melihat OVO menjadi perusahaan startup unicorn baru di Indonesia.